Makalah Manusia dan Agama - SAMBI ONLINE

Makalah Manusia dan Agama

manusia dan agama, makalah manusia dan agama, manusia dan agama pendidikan agama universitas



KATA PENGANTAR

  Puji syukur kehadirat Allah swt yang telah melimpahkan rahmat, taufik dan hidayahNya sehingga kami dapat menyelesaikan pengerjaan makalah yang berjudul ”Manusia dan Agama”.  Makalah ini diajukan guna memenuhi tugas mata kuliah Pendidikan Agama Islam.
  Pada kesempatan ini, kami mengucapkan terimakasih kepada semua pihak yang telah membantu sehingga makalah ini dapat diselesaikan tepat pada waktunya.                                                     
  Kami sebagai penyusun menyadari   bahwa dalam penulisan makalah ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu, kami sangat mengharapkan saran dan kritik yang bersifat membangun dari para pembaca demi kesempurnaan makalah ini.
  Semoga makalah ini dapat memberikan informasi dan bermanfaat untuk pengembangan wawasan dan peningkatan ilmu pengetahuan bagi kita semua.


                                                                                                ................... , 01 Oktober 2019




                                                                                                                Penyusun



BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Agama adalah fitrah “ketentuan mutlak” bagi Manusia tanpa agama, manusia bukan berarti apa-apa, karena Agama memang ditujukan bagi manusia. Agama memberikan penjelasan bahwa manusia adalah mahluk yang memilki potensi untuk berahlak baik (takwa) atau buruk (fujur) potensi fujur akan senantiasa eksis dalam diri manusia karena terkait dengan aspek instink, naluriah, atau hawa nafsu, seperti naluri makan/minum, berkuasa dan rasa aman. Apabila potentsi takwa seseorang lemah, karena tidak terkembangkan (melalui pendidikan), maka prilaku manusia dalam hidupnya tidak akan berbeda dengan hewan karena didominasi oleh potensi fujurnya yang bersifat instinktif atau implusif (seperti berjinah, membunuh, mencuri, minum-minuman keras, atau menggunakan narkoba dan main judi).
Agar hawa nafsu itu terkendalikan (dalam arti pemenuhannya sesuai dengan ajaran agama), maka potensi takwa itu harus dikembangkan, yaitu melalui pendidikan agama dari sejak usia dini. Apabila nilai-nilai agama telah terinternalisasi dalam diri seseorang maka dia akan mampu mengembangkan dirinya sebagai manusia yang bertakwa, yang salah satu karakteristiknya adalah mampu mengendalikan diri (self contor) dari pemuasan hawa nafsu yang tidak sesuai dengan ajaran agama.
Manusia sebagai makhluk Allah yang paling sempurna dibandingkan dengan makhluk lainnya memiliki beberapa alasan. Di antaranya bahwa manusia itu beragama, artinya manusia mengabdi kepada Tuhan baik itu berupa Dewa, patung atau lainnya sesuai dengan pemahaman masing-masing.
Atas dasar ini, agar kita sebagai manusia mampu menyeimbangkan sifat-sifat kita sesuai dengan ketentuan agama, khususnya mahasiswa sangat penting memahami nilai-nilai kemanusian dan unsur-unsur agama sebagai pedoman hidupnya. Dari beberapa fakta yang ada, khususnya di negara-negara Barat, lebih menuhankan ilmu dan teknologi di atas segalanya sehingga mengakibatkan beberapa kehancuran, kekacauan dan masalah-masalah yang tidak kunjung selesai karena didasarkan pada nilai-nilai manusia yang negatif. Hal ini tentu bertentangan dengan tujuan ilmu pengetahuan itu sendiri, yang memfokuskan pada arah kesatuan, ketenangan dan ketentraman.
Selain sebagai persyaratan mata kuliah Pengantar Studi Islam, kami merasa sangat penting memahami ruang lingkup sampai kepada pembahasan tentang hubungan manusia dengan agama yang lebih dalam berdasarkan beberapa sumber yang kami ambil,
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian di atas, rumusan masalah pada penulisan makalah ini adalah sebagai berikut :
1. Jelaskan  tentang manusia?
2. Apa hubungan manusia dengan agama?
3. Apa pengertian manusia ditinjau menurut pandangan agama Islam?

C. Tujuan
Adapun tujuan penulisan makalah ini adalah sebagai berikut :
1. Untuk memberitahukan mahasiswa tentang korelasi manusia dengan alam semesta.
2. Agar mahasiswa mengetahui pengertian manusia menurut agama Islam.
3. Supaya mahasiswa memahami hubungan manusia dengan agama sangat penting dalam kehidupan sehari-hari.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Manusia
1. Pengertian Manusia Menurut Para Ahli 
1) Ludwing Binswanger : Manusia adalah makhluk yang mempunyai kemampuan untuk mengada, suatu kesadaran bahwa ia ada dan mampu mempertahankan adanya di dunia.
2) Thomas Aquinas : Manusia adalah suatu substansi yang komplit yang terdiri dari badan dan jiwa. 
3) Marx : Manusia adalah entitas yang dapat dikenali dan diketahui.
4) Spinoza, Goethe, Hegel, dan Marx : Manusia adalah makhluk hidup yang harus produktif, menguasai dunia di luar dirinya dengan tindakan mengekpresikan kekuasaan manusiawinya yang khusus, dan menguasai dunia dengan kekuasaannya ini. Karena manusia yang tidak produktif adalah manusia yang reseptif dan pasif, dia tidak ada dan mati. 
5) Betrand Russel : Manusia adalah maujud yang diciptakan dalam keadaan bersifat mencari keuntungannya sendiri.
6) Jujun S. Suriasumantri : Manusia adalah makhluk yang mempunyai kedudukan among (unique) di dalam ekosistem, namun juga amat tergantung pada ekosistem itu dan ia sendiri bahkan merupakan bagiannya.
B. Perbedaan Manusia Dengan Makhluk Lain
Semua makhluk termasuk manusia adalah makhluk yang diciptakan oleh Allah SWT,  Tujuan penciptaannya adalah hanya untuk beribadah kepada Allah. Semua makhluk akan kembali kepada Allah. Dan tiap-tiap makhluk ada di dalam penjagaan dan pengawasan Allah.
Tabel Perbedaan Manusia dengan Makhluk Lain :
Manusia Malaikat Iblis          Jin
Fisik Ghaib Ghoib Ghoib 
Akal Akal Akal Akal 
Ruh Ruh Ruh Ruh
Nafsu Patuh Ingkar Nafsu
Emosi

C. Manusia Menurut Agama Islam
Manusia adalah makhluk yang sangat menarik. Oleh karena itu, ia telah menjadi sasaran studi sejak dahulu, kini dan kemudian hari. para ahli telah mengkaji manusia menurut bidang studinya masing-masing tetapi sampai sekarang para ahli masih belum mencapai kata sepakat tentang manusia. Menurut ajaran Islam, manusia dibandingkan dengan makhluk lain, mempunyai berbagai ciri, antara lain ciri utamanya adalah :
Makhluk yang paling unik, dijadikan dalam bentuk yang baik, ciptaan Tuhan yang paling sempurna. Karena keunikkannya dapat dilihat pada bentuk dan struktur tubuhnya, gejala-gejala yang ditimbulkan jiwanya, mekanisme yang terjadi pada setiap organ tubuhnya, proses pertumbuhannya melalui tahap-tahap tertentu. Terlepas dari kesempurnaannya, manusia memiliki kelemahan yang bersifat melekat dalam dirinya, di antaranya disebutkan di dalam al-Qur’an adalah melampaui batas .
Dan Dia telah memberikan kepadamu segala apa yang kamu mohonkan kepada-Nya. Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya. Sungguh, manusia itu sangat zhalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah)   (Q.S.Ibrahim (14):34), dan lain sebagainya. Namun untuk kepentingan dirinya manusia ia harus senantiasa berhubungan dengan penciptanya, dengan sesama manusia, dengan dirinya sendiri dan dengan alam sekitarnya.
Manusia diciptakan untuk mengabdi kepada Allah. Mengabdi kepada Allah dapat dilakukan manusia melalui dua jalur, jalur khusus dan jalur umum. Pengabdian melalui jalur khusus, yaitu segala pengabdian langsung kepada Allah yang cara dan waktunya telah ditentukan Allah sedang rinciannya disampaikan oleh Rasul-Nya, seperti shalat, puasa, zakat dan haji. Pengabdian melalui jalur umum dapat diwujudkan dengan melakukan perbuatan-perbuatan baik yang bermanfaat bagi diri sendiri dan orang lain.
Manusia dijadikan Tuhan untuk menjadi khalifah –Nya di bumi. Sebagaimana firman Allah pada QS. al-Baqarah (2):30 dinyatakan bahwa Allah menciptakan manusia untuk menjadi khalifah-Nya di bumi. Perkataan ‘menjadi khalifah’ pada ayat tersebut mengandung makna bahwa Allah menjadikan manusia wakil atau pemegang kekuasaan-Nya mengurus dunia dengan jalan melaksanakan segala yang diridhai-Nya di muka bumi ini.
Memiliki akal, perasaan dan kemauan atau kehendak. Dengan akal dan kehendaknya manusia akan tunduk dan atuh kepada Allah, menjadi muslim; tetapi dengan akal dan kehendaknya juga manusia dapat tidak percaya, tidak tunduk dan tidak patuh kepada kehendak Allah bahkan mengingkari-Nya. Selain itu akal, perasaan dan kemauan diberikan kepada manusia sebagai penunjang manusia menjalankan tugasnya sebagai khalifah di bumi. Apakah mampu memakmurkannya atau malah merusaknya.
Berakhlak adalah ciri-ciri manusia yang membedakan dengan makhluk lain. Dengan potensi akalnya manusia bisa memilih mana yang baik dan mana yang buruk secara bijak. Untuk itulah Nabi salah satu pengutusannya oleh Allah guna menyempurnakan akhlak yang baik kepada manusia. 

D. Hubungan Manusia dengan Agama
Pengertian tentang “Agama” sebagaimana yang telah dikemukakan mengundang 
pertanyaan-pertanyaan antara lain: 
1. Pengertian etimologis Agama yang diartikan sebagai “sesuatu yang dapat menghindarkan kehisupan dari kekacauan” menimbulkan pertanyaan: kehidupan manakah yang perlu terhindar dari kekacauan; kehidupan manusia atau kehidupan pada umumnya. 
2. Bertitik tolak dari definisi Agama yang dikemukakan oleh para ulama Islam bahwa Agama pada dasarnya diturunkan untuk manusia, maka timbul pertanyaan: Benarkah manusia membutuhkan agama dan mengapa manusia membutuhkan agama. 
Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut perlu ada analisis sekilas tentang “Manusia” sekurang-kurangnya analisis yang menjacakup: Kejadian manusia dan keadaannya ketika lahir, fungsi dan tugas manusia, kecenderungan-kecenderungan manusia serta perilaku manusia sepanjang sejarah sebagai bukti empiris. 
Upaya analisis tentang Manusia sering terbentur dengan rujukan ilmiah yang dipakai. Hampir semua rujukan dapat dipertanyakan, sebab analisis yang dilakukan oleh para ahli kebanyakan menggunakan rujukan ilmu pengetahuan yang ditemukan oleh manusia itu sendiri. Dalam hubungannya dengan rujukan yang dipakai sebagai bahan analisis tentang manusia juga menimbulkan pertanyaa “apakah dapat dipercaya rujukan yang dibuat manusia itu sendiri”, sementara kita yakin bahwa sebuah produk misalnya komputer, yang diyakini paling tahu adalah perusahaan yang mengeluarkan produk tersebut. Dengan demikian bagi seseorang yang ingin mengetahui secara sempurna, untuk pemeliharaan dan perbaikan produk tersebut sewajarnyalah dia bertanya kepada perusahaan yang mengeluarkan produk tersebut atau sekurang-kurang menggunakan buku petunjuk yang dikeluarkan oleh perusahaan yang bersangkutan. 
Tidak ada yang mengingkari bahwa “Manusia adalah produk Tuhan” karena dalam Agama Islam, manusia dan alam seluruhnya adalah “makhluk” yang artinya barang yang diciptakan, sementara itu “Allah” adalah “Kholiq” yang artinya “Pencipta”. Atas dasar ini, maka kita harus yakin bahwa yang paling mengetahui tentang manusia adalah Allah sendiri, karena Dialah penciptanya. Oleh karena itu, bagi siapapun yang ingin mengetahui tentang “Manusia” hendaknya harus bertanya dan minta informasi kepada Allah. Bertanya kepada Allah artinya bertanya dan minta informasi kepada Al-Quran karena Al-Quran adalah “Kalam Allah”. 
Hubungan manusia dengan agama sangat berpengaruh besar bagi masyarakat modern seperti sekarang ini. Terlebih di negara-negara barat dengan mengenyampingkan agama dan menempatkan ilmu dan akal manusia semata-mata sebagai satu-satunya ukuran menilai segala-galanya, yaitu paham yang menjadikan manusia sebagai pusat. Pemahaman tersebut telah menyebabkan berbagai krisis dan malapetaka dan karena pengalaman itu, kini manusia di bagian dunia mulai beralih perhatiannya kepada agama. Ini disebakan karena beberapa hal, diantaranya yaitu, yang pertama para ilmuwan yang selama ini meninggalkan agama di seluruh dunia kembali kepada agama sebagai pegangan hidup yang sesungguhnya. Lalu yang kedua karena harapan manusia kepada otak manusia untuk memecahkan segala masalah yang dihadapinya pada abad-abad yang lalu, ternyata tidak terwujud.
Akibat dari pemahaman yang mengatakan ilmu dan akal segalanya, orang menjadi ragu atau tidak sepenuhnya lagi percaya kepada kemampuan manusia untuk memperbaiki kehidupan yang bahagia tanpa agama. Dengan sains dan teknologi, memang kehidupan manusia menjadi senang, tetapi perkembangan sains dan teknologi, terutama teknologi perang, menyebabkan kehidupan manusia, seluruhnya menjadi tidak tenang. Perang dunia pertama dan kedua yang terjadi di abad ini telah membuktikan bahwa teknologi yang amat maju dengan mudah memusnahkan kehidupan manusia dan kemanusiaan. Untuk mengendalikan teknologi yang maju itulah, kini manusia memerlukan kembali, lebih dari masa yang lampau, pedoman dan pegangan hidup yang sejati, yaitu agama yang mampu mengendalikan dan mengarahkan penggunaan teknologi untuk kepentingan umat manusia secara keseluruhan. Dengan panduan agama, terutama agama yang berasal dari Allah, teknologi dapat dikembangkan dan diarahkan untuk tujuan-tujuan yang bermanfaat bagi kehidupan, membawa keselamatan dan kebahagiaan umat manusia.
Salah satunya adalah agama Islam, agama akhir yang tetap mutakhir, agama yang selalu mendorong manusia untuk mempergunakan akalnya untuk memahami ayat-ayat kauniyah yang terbentang di alam semesta dan memahami ayat-ayat qur’aniyah yang terdapat di dalam al-Qur’an.
E. Urgensi  Agama dalam Kehidupan
1. Mengatur dan menghantarkan manusia demi mencapai kebaikan dalam kebahagiaan di akhirat.
2. Agama merupakan petunjuk kebenaran dan sumber moral.
3. Memberikan petunjuk yang haqiqi dan abadi bagi seluruh umat manusia.
4. Memberikan kemaslahatan dan kedamaian bahi kehidupan manusia.


BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Manusia sebagai makhluk Tuhan yang paling sempurna, memilki beberapa keunggulan dibandingkan makhluk lainnya. Di antaranya adalah manusia memiliki potensi berupa akal dan kemauan, manusia dikhususkan oleh Allah untuk menjadi khalifah di muka bumi, manusia memiliki akhlak yang bersumber dari akal pikiran dan kehendaknya yang menentukan.
Sebab manusia memiliki dua sisi, yaitu baik dan buruk. Maka agama sangat penting perannya untuk dijadikan pedoman dan pegangan hidup manusia. Agar manusia mengetahui batasan-batasan yang harus dikerjakan dan yang tidak boleh dikerjakan. Sehingga dengan berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi, agama mampu menjadi penyeimbang agar manusia menggunakan ilmu pengetahuan dan teknologi bukan untuk kehancuran.
B. Saran
Sebagai mahasiswa, penerus cendekiawan-cendikiawan yang baru di masa mendatang. Sudah seharusnya kita mempelajari pengetahuan dan menguasainya diimbangi dengan nilai-nilai agama yang ada, untuk menciptakan sebuah kesempurnaan bahwa pengetahuan dengan diimbangi ketakwaan akan jauh lebih bermanfaat ketimbang mengandalkan pengetahuan semata.

DAFTAR PUSTAKA
https://www.youtube.com/watch?v=5q9tlMK5iek
https://sangpembedauniat.wordpress.com/2015/10/02/makalah-manusia-dan-agama-mata-kuliah-pengantar-studi-islam/
BAB_I.pdf
BAB II.pdf
https://www.slideshare.net/daffi90/agama-dalam-kehidupan-manusia?next_slideshow=1

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Makalah Manusia dan Agama"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel